Rabu, 31 Oktober 2012

Bukan Sekolah Robot

Assalamu'alaikum wr wb.. 

pic diambil dari sini

Klo sudah sekali menulis maka ide-ide seakan berloncatan ya.. Begitu juga dengan membaca, akan muncul kecanduan akan bacaan yang bermutu, kaya akan ilmu baik non fiksi maupun fiksi. 

Kemarin, sya menuntaskan buku Sekolahnya Manusia karya Munif Chatib. Mengingatkan sya pada buku 'Totto chan, Gadis Kecil di Jendela', kisah  nyata yang dialami gadis kecil yang hiperaktif dan kreatif berhasil  melejit potensinya di sekolah yang memang me-manusiakan, bersetting sebelum-sampai perang dunia kedua berlangsung.

Sekolahnya Manusia, menekankan bahwa tiap anak adalah cerdas dan mampu menjadi sang juara termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Kecerdasan tiap anak itu unik, peran besar ada di tangan orang tua, guru dan lingkungan terdekat untuk mampu memahami dan melejitkan potensinya. 

Multiple Intelligence bukanlah sebuah kurikulum namun lebih tepatnya adalah strategi mengajar.. Di SD dan SM yang diasuh oleh Bapak Munif Chatib, penerpannya berupa penyesuaian gaya belajar anak dengan gaya mengajar guru. Aktivitas belajar-mengajar bukankah salah satu bentuk komunikasi? Dimana tujuannya adalah tersampaikannya pesan, so menjadi kewajaran bahkan keharusan untuk mampu menjembatani kegiatan belajar mengajar menyenangkan dan mudah dipahami.. Nah, disinilah peran Multiple Intelligence(MI).. 

Salah satu pernyataan dari guru yang mengajar di sekolah yang menerapkan MI, bahwa mengajar di jam pertama maupun jam terakhir sama menyenangkan dan bersemangatnya.. 

Membaca buku ini, menjadi salah satu referensi untuk membuat suasana belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan untuk guru dan murid.. :)

Pendidikan berkesinambungan yang dilakukan keluarga, sekolah melalui kurikulumnya dan juga masyarakat dan peran negara menjadi sebuah keharusan jika kita menginginkan lahirnya generasi yang mampu menjadi agent of change dan sarat prestasi.. 

wa'alaikum salam.. 

-draf ditulis seminggu yang lalu-

1 komentar:

Terima Kasih untuk jejaknya.. ^___^