Selasa, 01 Maret 2016

Letters to Karel

#10harimenulis
#empat

"Seseorang yang pergi meninggalkan kita, harusnya kita iringi dengan doa, bukan air mata. Karena doa-lah yang lebih banyak membantu orang tersebut di alam kubur sana. Sedangkan air mata, cenderung membuat kondisi jadi lebih buruk."

Sebuah buku yang ditulis seorang ayah untuk anaknya, sebagai persembahan hadiah untuk alm. istri tercinta. Sebuah buku yang berawal dari surat-surat yang dituliskan sang ayah di akun facebook untuk mengenalkan sosok ibu yang melahirkan anaknya, juga perjuangannya membesarkan bayi tanpa sosok ibu. Siapkan tisu kalau mau membaca buku ini. Buku ini bukan dibuat untuk bermelow galau, tapi sukses membuat kita terharu.

"Karel, Sayang, Sholeh, Pinter, jangan pernah sedikitpun berfikir kalau kamu adalah penyebab kematian ummi. Jangan sekalipun kecewa dan menyesali kehendak Allah atas kehidupan kita. Cara terbaik untuk menyikapi kehendak Allah adalah dengan menerimanya. Karena hanya dengan menerima, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Entah dalam bentuk apa dan bagaimana yang lebih baik itu. Karena sebagaimana, Allah menyayangi ummi dengan begitu cepat memanggilnya, Allah juga tentu menyayangi kita. Hanya caranya saja yang mungkin berbeda. Hanya bagaimana sajanya yang belum kuta tahu."

Tak semua anak beruntung memiliki orang tua yang lengkap, sehat dan siap sedia mendidik anak menjadi sholeh/ah. Namun hal ini bukanlah penghalang si anak tumbuh berkembang dengan baik. Setiap manusia diberikan ujiannya masing-masing sebagai tanda sayang Allah agar kita tumbuh dewasa dalam keimanan. Cara kita menyikapi ujian dan tantangan yang akan membedakan hasilnya.

"Alhamdulillah ya, masih dikasih ujian, berarti Allah masih sayang sama kita."

Sungguh indah cara ayah bertutur pada Karel agar senantiasa ingat sosok Ummi yang begitu lembut, sayang luar biasa pada Karel.

"Jangan khawatir sholeh, karena hidup bukanlah tentang bersama siapa kita menjalaninya, tapi bagaimana kita menjalaninya."

Aah iya, kadang kita sering lupa betapa "everything happen for a reason", apapun skenario Allah pastilah itu yang terbaik untuk kita. Hanya saja seringkali kita merasa jadi yang paling menderita sedunia, dunia terasa sempit dan gelap saat menghadapi ujian. Sungguh patrikan dalam hati dan fikiran bahwa tiada yang lebih besar dihadapan Allah Sang Maha Besar, maka menyikapi ujian dan tantangan akan lebih ringan. Jalani saja dengan bahagia, walaupun wajar saat ada jeda dalam fase menerima.

" Orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan anak cucu mereka dengan mereka dalam surga (At-Thur 21) "

Jikalau kita hanya sebentar bersama salah satu orang tua kita, bersabarlah tetaplah jadi anak yang berbakti, baik lagi sholeh/ah. Di akhirat kelak kita bisa membersamai selamanya sebagaimana janji Allah dalam surat at-Thur ayat 21.

Sayangi orang tua, kakak adik dan orang-orang terdekat dan tercinta kita dengan sebaik-baiknya, limpahi mereka dengan kasih sayang, perhatian dan doa. Sungguh jangan ada penyesalan atas waktu yang Allah berikan agar kita menjaga mereka dalam kebaikan.

#sukabumi

NB : kemaren lewat menulis karena salah atur aktivitas. Semoga lancar sampai tulisan ke 10. ^^

2 komentar:

  1. kadang keinginan kita tidak sesuai tapi Allah tahu jalan yang terbaik

    BalasHapus
    Balasan
    1. 100% betul mba, disini pentingnya khusnudzon kepada Allah ya mba.. Mb Lidya makasih ya untuk setia mampir kesini. Padahal awal jarang banget maen ke blog mb.

      Hapus

Terima Kasih untuk jejaknya.. ^___^