Minggu, 22 Mei 2016

One In One Out

#Sepuluh
#10harimenulis

Alhamdulillah sampai juga tulisan sepuluh, alhamdulillah. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh kawan semua, semoga sekeluarga sehat dan dilimpahi rezeki nan berkah.

One in, one out. Satu masuk, satu keluar. Mau ngobrolin apa sebenarnya? Ketebak? Yay, jawaban kamu betul hehe. Iya, ini mau ngomongin satu kebiasaan baik yang perlu dilestarikan :). Sebagai wanita, yang hoby jualan baju pula hehe salah satu ujiannya adalah mata hijau kalau lihat barang dagangan baru. Sample baru jadi, "ih lucu jadinya, manis deh.. Ya udah ambil satu lah ya, kan belum punya warna yang ini." Terdengar familiar? Hehe toss kita sama. Sejak mulai berjualan jadi reseller sampai bikin produk sendiri di @khansahijabsyari , otomatis lemari pakaian semakin sesak. Andai lemari bisa teriak, dia akan bilang "kamu dzalim, membebaniku melebihi batas!". Iya, hawa nafsu itu pengen punya segala warna macam pelangi, mejikuhibiniu. Padahal mah ya, yang dipakai ya itu lagi itu lagi. Berlangsung cukup lama ini, sampai Allah berikan hidayah. Bertemu sahabat baik dapat ilmu baru,  yang bikin mikir. Iya, pakaian juga termasuk yang akan dipertanyakan di akhirat sana. Termasuk yang berlebih-lebihan kah saya ini? Kembali lagi diajak mikir definisi kebutuhan. Beda kan ya ma keinginan. Kebutuhan itu terbatas, sedangkan keinginan tak terbatas.

Allah Maha Baik, fikiran saya saat itu lagi cling alias bener ga keruh atau ruwet. Merenung sejenak, berjalan-jalan ke masa lalu sekian tahun saat masih berseragam putih merah, putih biru. Ya Allah, iya bapak dan ibu membiasakan kami hanya membeli baju baru pada moment khusus seperti lebaran, kaos udah kekecilan, atau kebutuhan sekolah. Baju yang udah kecil atau tidak cocok dengan selera saatnya berganti kepemilikan, biasanya lungsur dulu ke adik hehe. Dulu, ga mikir tuh kalau berangkat sekolah madrasah pakai baju untuk hari senin-selasa sama, terus minggu depannya sama lagi ya tak masalah. Nah, nah jadi banyak istighfar banget saat itu. Ada yang salah nih dengan pengelolaan keinginan dan memaknai nilai syukur.

Tujuh hari dalam seminggu, Senin sampai Ahad. Hmm, jelas tergambar aktivitas yang saya lakukan. Maka memetakan kebutuhan baju pun jelas. Mana seragam kantor, seragam di baiti jannati, mana gamis plus khimar casual untuk berbagai acara (halaqah, arisan,dll). Yup, alhamdulillah fikiran baik, jadi niat, dan langsung eksekusi. Ini yang saya lakukan saat akhirnya dapat kesadaran. Bergegas memilih mana yang dipertahankan, mana yang perlu berganti kepemilikan. Memang tak langsung dalam satu waktu lemari terasa lenggang. Membutuhkan beberapa bulan agar lemari lenggang di kamar kost. Sekarang masih punya PR di rumah. Ya Allah sempatkan saya perbaiki.

One in, one out. Pembiasaannya harus dimulai, ga mudah tapi bisa. Saat tertarik dengan desain terbaru yang saya buat untuk @khansahijabsyari, maka wajib buat saya berfikir gamis/khimar mana yang perlu keluar. Bagian mengeluarkan ini lho yang kadang digoda dengan "memori masa lalu". " Ini kan kenang-kenangan dari ibu ini, ini kan hadiah dari sahabat yang itu, ini kan iniiii.. " selalu ada alasan. Selalu ada pemberat untuk melakukan kebaikan. Tips nya untuk tipe melankolis  kayak saya ini, foto itu baju/gamis/khimar plus tulis dalam diary hadiah/kenang-kenangan itu untuk mengingat betapa baiknya sahabat kita, trus setrika, lipat baik, masukkan plastik. Yes, waktunya serahkan pada yang lebih membutuhkan. Iya harus tega. Harus bisa. Kalau ngikutin "memori masa lalu" numpuk dah itu gamis/khimar/baju rumahan  dan siap-siap aja dengan pertanyaan di akhirat sana. Bermanfaat kah atau tersia-siakan/nganggur berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Pengen jadi Muslimah yang baik itu pasti diuji, termasuk perasaan sayang dengan benda (pakaian).

Ini tulisan serius nyindir diri sendiri, bukan yang lain. Tapi kalau ada yang jadi berfikir dan mau ngurangin isi lemarinya, alhamdulillah. Semoga jadi pahala kebaikan kita bersama ya. :) ..

#ntms
#oneinoneout

1 komentar:

  1. 👍👍👍😥😥😥
    One in one out juga berlaku di "harta" kita yang lain yaaa, njuu. Buku, misalnya. Atau sepatu. Atau tas. Atau printilan-printilan lainnya yang lebih banyak disimpennya daripada dipakainya. Jangan-jangan di akhirat nanti benda-benda yang kita miliki, kita sayangi, tapi sesungguhnya lebih baik dipindahtangankan kepada yang membutuhkan, justru menjadi pemberat hisab kita. Na'udzubillahi min dzalik 😭😭😭

    BalasHapus

Terima Kasih untuk jejaknya.. ^___^