Senin, 13 Juni 2016

Orang-orang Pilihan

Assalamu'alaikum, haii apa kabar Ramadhannya teman? Alhamdulillah saya dan keluarga sehat dan baik banget, semoga teman-teman sekeluarga dilimpahi kesehatan & rezeki nan berkah 😊.

Alhamdulillah ini kali pertama Ramadhan di rumah sendiri, suasana yang berbeda. Lingkungan sekitar terasa sangat kondusif untuk menjadikan Ramadhan yang lebih baik dan berkah dibanding tahun sebelumnya. Selama tujuh hari ini terasa lebih produktif dan bisa menyempatkan untuk memutabaah diri. Alhamdulillah 😊.

Seminggu ini pula banyak inspirasi yang hadir, baik melalui bergabung dengan grup baru maupun bertemu dengan mereka yang istimewa. Sekian tahun berproses dalam hijrah, Allah menghadirkan orang-orang terpilih dalam kehidupan saya. Mereka yang tertempa ujian kehidupan dengan tingkat kesulitan tinggi. Silih berganti antara kehilangan orang terkasih hingga materi, namun dengannya Allah berikan "jalan cahaya". Mereka mendekap erat "cahaya Islam", mengarungi ganasnya samudra kehidupan dengan kesabaran dan ketenangan karena yakin setiap persoalan akan terselesaikan dihadapan Allah Yang Maha Besar. Ya Rabb Alhamdulillah atas nikmat ini. Salah satu doa ibu terkabulkan, "meminta anaknya dipertemukan dengan orang-orang shalih/shalihah".

Boleh ya, saya sharing tentang seorang teman yang menurut saya adalah bagian dari "orang-orang pilihan" tadi. Di usianya yang belia, baru saja akil baligh, ditinggal ayahanda tercinta. Dalam kesedihan yang menerpa, ternyata usaha ayahnya kolaps, hingga menghabiskan seluruh materi keluarga yang dimiliki bahkan meninggalkan hutang. Ibunda tercinta mengambil peran ayah sebagai tulang punggung keluarga dengan bekerja ribuan kilometer dari tempat tinggal mereka. Teman saya, sebut saja "Mayang" suka tidak suka harus mengambil tanggung jawab sebagai kepala keluarga dalam rumah yang dihuni dua adik dan satu nenek. Usianya baru belasan, dari kehidupan serba Hedon, serba ada kemudian dunianya berbalik 180 derajat. Seketika peran sebagai ayah, ibu dan kakak jatuh padanya. Mayang harus memastikan ketersediaan makanan untuk tiga penghuni rumah lainnya, memastikan adik-adiknya tetap berangkat ke sekolah, hingga mengatur uang yang ada (kiriman ibunya) untuk mencukupi kebutuhan sampai kiriman berikutnya datang. Hari-hari itu dunia terasa gelap, belum ada orang dewasa lain sebagai tempat bersandar karena keluarga besar seakan tak peduli dengan nasib ibu-anak-nenek yang harus bertahan hidup 😭.

Allah Maha Baik, selalu ada hikmah dalam tiap kejadian. Sebelum kehilangan ayahanda dan (titipan) melimpahnya kekayaan, Mayang adalah muslimah remaja yang belum mengenal Allah dengan baik, shalat jarang lebih sering bolongnya, hidup tanpa tuntunan Islam, gampangnya ya "Islam KTP". Setelah kejadian itu, depresi melanda si gadis belia ini. Langit terasa runtuh, tapi dengan kecerdasannya dia sadar ada adik-adik, nenek yang butuh tempat bersandar dan ibu yang percaya padanya. Mayang memaksa dirinya untuk kuat dan tegar. Hidup harus terus berjalan. Iya, harus. Saat itulah Allah menyapa, memeluknya dengan menghadirkan guru kehidupan. Mayang sang remaja hedon, vokalis band rock musti undur diri dari dunia itu. Bergulat dengan beberapa peran yang menantinya. Kekosongan hati dari sosok Ayah dan Ibu, Allah menuntunnya bersentuhan dengan teman-teman dari Rohis di sekolah menengah pertamanya. Melalui kajian demi kajian dalam lingkar kecil, dimana pada awalnya ditentang dalam hati oleh Mayang, "Bahas apa sih ini, masa bodoh dah dengan kebangkitan, mabda, bla bla. Apa hubungannya pula dengan hidupku yang kacau setelah ayah meninggal dan ibu terbang ribuan kilometer jauhnya". Hingga di satu pertemuan yang Allah kehendaki, melalui dialog hati terbukalah pintu cahaya. "Mayang, sungguh bersyukurlah di usia beliamu Allah berikan tempaan berat untuk menjadikanmu sosok yang hebat dimasa yang akan datang" ujar sang guru kehidupan. Itulah kalimat pembuka dialog hati antara dua insan, selanjutnya mengalir kisah luar biasa, getir dan pedih yang telah dijalani oleh sang guru kehidupan. Allah Maha Baik, melalui dialog hati tadi mulai tertunjuki lah Mayang pada cahaya Islam. Bersegera dia bangkit, berlari mendekat kepada Allah, mencarinya dalam shalat dan doa. Si gadis belia ini mendapat perspektif lain tentang roda kehidupan keluarganya yang berputar terbalik. Memunculkan syukur dalam dirinya, mencoba mengakrabkan diri dengan ikhlas dan ridha menerima qadha-Nya. Hari-hari itu memang berat, pedih, bagaimana mengatur uang dua ribu perak di tahun dua ribuan untuk memenuhi kebutuhan makan 4 orang dalam sehari. Saat memilih untuk bolos sekolah (dengan perhitungan pelajaran hari itu bisa dikuasai melalui belajar mandiri) agar adik-adiknya bisa tetap sekolah hari itu, ini terjadi berkali-kali. Memanajemen mencuci, memasak dan tugas rumah tangga lainnya agar tertangani bersamaan dengan menjaga nilai rapot untuk selalu di peringkat pertama demi mengamankan beasiswa. Si belasan tahun ini menjadi dewasa sebelum waktunya tapi punya pegangan yang tepat. Ada Allah yang menjadi tempat bersandar, dan sang guru kehidupan yang mengisi peran sebagai ibu dan sahabat baik untuk mengiringi perjuangannya. Hari berganti, bulan bahkan tahun Mayang remaja sekarang menjadi sosok muslimah nan tangguh, peduli dan tetap berperan sebagai tulang punggung keluarga. Optimis menjadi salah satu sifatnya, kepekaan sosialnya diatas rata-rata muslimah aktif muda kebanyakan. Perannya pun bertambah menjadi pengemban dakwah nan bijak namun revolusioner. Kedekatannya pada Sang Ilahi Rabbi menjadikannya rendah hati dan berupaya maksimal dalam tiap tantangan.

Alhamdulillah, Ya Rahman sungguh beruntung diri ini bisa bersua, bersahabat dengannya. Mungkin kisah saya tak se-rollercoaster Mayang, tapi kehadiran sosoknya memberi cermin pada diri untuk senantiasa bersyukur dan bersyukur. Nikmat iman itu luar biasa, menyelamatkan kita dari gelapnya dunia, menyeret kita untuk sadar dan bangkit demi meraih kebahagiaan dan keberkahan.

Ramadhan hari ke-8.
#baitijannati
#inspirasi









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih untuk jejaknya.. ^___^