Rabu, 22 Juni 2016

Pahami Revolusinya, Petakan Strateginya

Judul : Marketing to The MIDDLE CLASS MUSLIM
Penulis : Yuswohady ( dan Dewi madyani, Iryan Ali Herdiansyah, Ikhwan Alim)
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, 2014
Jumlah halaman : 280 halaman

Tertarik buku ini gegara ngulik blognya pak Yuswohady, tahun 2014, kebeli di pertengahan 2015. Timingnya pas dengan perubahan DNA online shop kami, jadi angkut. Bahasan marketing itu penting buat para pebisnis, tapi pembahasaan yang renyah wajib buat saya yang butuh jeda untuk mikir.

Kelas menengah, satu tema yang konsisten dibahas penulis mulai tahun 2010 hingga sekarang. Nah, siapa kelas menengah itu? Mereka yang memenuhi 3 kriteria ini. Pertama, mereka memiliki daya beli lumayan tinggi (high resources). Kedua, mereka pintar (more knowledgeable) dan berwawasan luas karena begitu mudahnya mengakses informasi. Dan ketiga, secara sosial mereka terhubung satu sama lain (socially-connected).  Yup, dalam buku ini konsentrasi ada di kelas menengah Muslim. Potensi pasar yang luar biasa besar (disebut 87% dari seluruh penduduk Indonesia), dalam beberapa tahun terakhir mengalami revolusi dari sisi mindset dan perilaku.

Sederhananya, buku dengan cover gonjreng  ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, dibahas berbagai fenomena revolusi kekinian dalam sebelas bab. Pergeseran tren hijab hingga kebutuhan wisata religi yang meningkat dengan umrah berkali-kali, kepedulian akan kehalalan suatu produk tak hanya pada makanan tapi juga sampai ke produk kosmetik dijabarkan dengan apik oleh penulis. Fenomena yang menarik dicermati karena dinamikanya cepat, dan perilakunya wajib dipahami bagi para pelaku bisnis. Tepat memahami, tepat dalam penentuan strategi. Bagian pertama menjadi ajang pembuka kesadaran bagi pelaku bisnis untuk lebih peka akan kebutuhan konsumen kelas menengah Muslim Indonesia.

Memahami kebutuhan saja tak cukup untuk memenangkan pasar, butuh strategi matang nan tepat sasaran. Bagian kedua mengupas hal ini. Penulis dan tim memetakan profil konsumen menengah muslim Indonesia.

4 Sosok Konsumen Muslim

Matriks diatas disusun atas dua dimensi atas dua product values yang berbeda yakni manfaat fungsional dan manfaat spiritual (kesesuaian dengan aturan Islam. Tiap profil punya kecenderungan berbeda dalam perilakunya.

Apathist,  mereka masih bergumul dengan kebutuhan dasar, seringnya berada di tingkat kesejahteraan masih rendah dan wawasan serta pemahaman Islam yang juga rendah. Harga (price) menjadi satu kunci untuk menaklukkan segmen ini. Karena mereka kurang peduli dengan manfaat produk dan spiritual.

Rationalist, sosok yang memiliki pengetahuan, open minded dan wawasan global tapi tingkat kepatuhan pada syariat Islam lebih rendah. Yup, anggapan agama itu kuno ada di segmen ini. Jadi manfaat fungsional maupun emosional jadi pendorong eksekusi closing dalam penjualan.

Conformist, tipe konsumen yang umumnya sangat taat beribadah, menerapkan nilai-nilai Islam dalam kesehariannya, cenderung menutup diri dari nilai-nilai Barat. Untuk memudahkan pengambilan keputusan, mereka memilih produk yang berlabel Islam atau di-endorse oleh tokoh panutan Islam.

Universalist, sosok konsumen ini memiliki perpaduan wawasan luas, open minded, melek teknologi tapi teguh dalam menjalankan nilai-nilai Islam. Mereka tidak semata melihat label keislaman, namun melihat pada substansi Islam dalam praktik bisnis produk itu berjalan.

Profil keempat, universalist menurut penulis adalah penghubung untuk merangkul keempat potensi konsumen menengah Muslim Indonesia. Salah satu contoh kasusnya iklan Bank Muamalat, dimana aspirasi yang dimunculkan semakin universalist namun tidak menepikan ketiga profil lainnya untuk tetap dirangkul/disasar.

Satu bab penutup berisi perumusan strategi untuk merespon revolusi pasar Muslim tadi. Ada enam prinsip pemasaran konsumen Muslim yang bisa jadi panduan bagi pelaku bisnis untuk merumuskan strategi tepat guna dalam memenangkan persaingan.

Pembahasan keenam prinsip tadi mudah dipahami dengan contoh kasus yang sesuai.
Pengen tahu bahasan lengkapnya, cus baca bukunya yak. 😉

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih untuk jejaknya.. ^___^