Minggu, 03 Juli 2016

Mudik oh Mudik

Mudik oh mudik

Kali kedua mudik berjamaah dengan keluarga. Dibantu mobil pinjaman dari kakak ipar yang sengaja menjemput para adik yang berdomisili di Bogor-Jakarta. Alhamdulillah hari ke 28, tepatnya bada magrib perjalanan dimulai. Sempat terjebak kemacetan dalam kota dan dilanjutkan sampai masuk tol Cikampek lancar alhamdulillah. Memasuki waktu sahur, mobil bergerak keluar tol di Kota Purwakarta. Setelah sahur dan shalat subuh alhamdulillah perjalanan lancar hingga kabupaten Subang. Sepanjang jalan dari Purwakarta hingga Subang volume kendaraan memang tinggi sekali, jalanan lancar padat. Tertidur pulas sejak memasuki kota Indramayu, melewati Cirebon hingga masuk tol Pejagan. Daaan... Dimulailah kisah klasik mudik. "Mudik ga asik tanpa macet". Sering ya denger seloroh seperti ini. Perjalanan asli yang hanya 25km saja, dan biasanya ditempuh dalam 30 menit Kami tempuh dalam waktu 6 jam dan masih berlanjut. Ya, hingga tulisan ini dibuat kami masih berjuang menuju pintu tol Brebes Timur. Subhanallah ya. " Everything happen for a reason ",, selalu ada hal baik yang Allah ingin kita pahami dan pelajari.

Qadarullah perjalanan yang bagaikan parkir perlahan di tol Pejagan ini, di bersamai dengan cuaca panas menyengat. Suhu mencapai 31° celcius. Ratusan mobil diantara ribuan lainnya, berhenti, mematikan mesin mobil dan beristirahat baik di batas tol(pinggir jalan) atau bahkan rest area resmi yang hanya ada satu-satunya. Ada hal-hal unik disini, yuk dilist satu-satu :

1. Berbanding lurus dengan ribuan mobil yang memenuhi tol, area tol terutama bagian pinggir jalan (batas tol) jadi pasar dadakan yang menjual aneka minuman dingin/panas, pop mie, nasi goreng bahkan takjil (khusus yang terakhir disebut mulai muncul jam 5 sore). Eh ada yang lupa, tersedia juga bensin yang dijual per derigen (5liter). Satu hal yang bikin miris adalah begitu mudahnya melihat orang makan minum, dimana kondisinya mereka adalah pedagang, para pria/wanita dewasa tentunya udah Akil baligh ya. Jika para pemudik memang diberikan rukshah/keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di lain waktu setelah Ramadhan. Maka, rukshah apakah yang digunakan para pedagang makanan ini untuk tidak berpuasa? Jangan su'udzan neng!!! Iya, sulit untuk saya tidak berfikir demikian. Karena jumlahnya bukan satu-dua, kemungkinan mereka non muslim juga tercoret karena sebagian didampingi oleh istri atau saudara yang memakai kerudung. Astaghfirullah, sungguh hati ini terluka. Miris, sedih. Jika melihat pedagang wanita makan, terucap dalam hati mungkin mereka memang sedang haid, jadi ga puasa dong ya. Nah kalau laki-laki???

2. Suasana mudik ini membuktikan kreativitas orang Indonesia, ya terbatasnya jumlah rest area dan kejadian macet parah ini tentunya tetep deh dibutuhkan kamar mandi untuk menyalurkan hajat. Ya, tersedia Kamar mandi dadakan (WC/toilet) yang terbuat dari terpal yang mengelilingi 4 tonggak tiang, baik dengan atap ataupun beratapkan langit. Luar biasa. Satu solusi banget ditengah kondisi macet tadi. Turunin standar kebersihan (dan lain sebagainya)  ya jika entah suatu hari kamu berkesempatan mencobanya. Penampakannya ada di foto dibagian postingan ini. Hehehe sesuatu pokoknya 😆.

3. Nah, kalau yang ini mah lebih ke curhat ya. Bukan bermaksud untuk ujub atau Riya. Nulis ini diniatkan sebagai reminder atas perilaku diri. Alhamdulillah sepanjang kemacetan di tol Pejagan ini, selain bisa mengontrol emosi satu prestasi baiknya adalah mampu produktif tetap memilih bahagia. Alhamdulillah bekal buku "5 guru kecilku 2" karya teh Kiki Barkiah berhasil dituntaskan dengan seksama dan penuh hikmah. Alhamdulillah shalat Sunnah baik malam maupun siang tetap bisa dijalani, pun tilawah Qur'an berhasil tetap 1 juz bahkan lebih dalam kurun waktu 24 jam. Alhamdulillah alhamdulillah. Satu sisi, ini adalah tamparan keras bagi diri betapa ternyata selama ini mudah untuk melalaikan waktu. Dengan kondisi terbatas air, terbatas gerak, full kesempatan untuk esmosi, tapi bisa produktif dan bisa mengingatkan untuk mendekat pada Allah SWT. Nah nah.. Gimana dihari-hari biasa, dimana segala kenyamanan ada dan kondisinya rutinitas atau bisa diprediksi. Ya Allah, ternyata mungkin ini satu hikmah terbesar betapa perlu banget muhasabah di hari-hari terakhir Ramadhan. Sejauh mana kesungguhan untuk menjadikan setiap kesempatan yang Allah beri, setiap detiknya berharga menjadi bekal ke kampung akhirat kelak. Karena benar, sungguh tak ada jaminan untuk berapa lama ataupun berapa waktu tersisa untuk kita bertaubat. 😭😭😭😭😭

Ini cerita mudik ku, mana ceritamu???

3 komentar:

  1. Perjalanan mudik apalagi macet bisa melatih emosi dan kesabaran ya. Allhandulillah kalau sudah khatam Qur'annya juga

    BalasHapus
  2. A true observer tanpa meninggalkan kesempatan untuk memaksimalkan kesempatan beribadah secara khusus... I envy you, Mbak :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. meninggalkan semangat maksudnya, Mbak, hihihi sampai salah ketik saya.

      Hapus

Terima Kasih untuk jejaknya.. ^___^